Berita  

Situasi terkini konflik di kawasan Asia Tengah

Ancaman Senyap di Jantung Eurasia: Potret Konflik Asia Tengah Terkini

Kawasan Asia Tengah, yang sering disebut jantung Eurasia, memang tidak sedang dilanda perang skala besar seperti di beberapa wilayah lain. Namun, ketegangan dan potensi konflik tetap menjadi bayang-bayang yang membayangi stabilitasnya. Situasi terkini ditandai oleh kombinasi sengketa perbatasan, kekhawatiran dari Afghanistan, serta persaingan geopolitik.

1. Sengketa Perbatasan dan Sumber Daya:
Ini adalah pemicu konflik paling nyata. Khususnya perbatasan antara Kyrgyzstan dan Tajikistan yang sering memanas, menyebabkan bentrokan bersenjata yang menelan korban jiwa. Akar masalahnya adalah demarkasi perbatasan yang belum tuntas sejak era Soviet, diperparah dengan sengketa akses ke sumber daya air dan tanah, serta keberadaan permukiman di wilayah sengketa (enklave/eksklave). Meskipun ada upaya negosiasi dan demarkasi, kesepakatan permanen masih sulit dicapai.

2. Bayangan Afghanistan:
Kondisi di Afghanistan pasca-kembalinya Taliban pada 2021 menjadi perhatian serius bagi negara-negara Asia Tengah. Kekhawatiran utama meliputi potensi penyebaran kelompok radikal (seperti ISIS-K) ke wilayah perbatasan, peningkatan penyelundupan narkoba, serta gelombang pengungsi. Negara-negara seperti Tajikistan dan Uzbekistan sangat waspada terhadap ancaman keamanan dari selatan.

3. Perebutan Pengaruh Geopolitik:
Asia Tengah adalah arena ‘permainan besar’ bagi kekuatan global. Rusia berusaha mempertahankan pengaruh historisnya melalui aliansi keamanan seperti CSTO (Collective Security Treaty Organization). Tiongkok, dengan inisiatif Jalur Sutra Baru (BRI) dan Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO), fokus pada investasi ekonomi dan keamanan. Sementara itu, Barat (AS dan Eropa) berupaya mencari stabilitas dan diversifikasi energi, meskipun pengaruhnya lebih terbatas. Persaingan ini, meskipun tidak langsung memicu konflik, bisa memperumit penyelesaian masalah regional.

4. Isu Internal dan Radikalisasi:
Di balik ketegangan eksternal, masalah internal seperti kemiskinan, korupsi, dan kurangnya ruang politik di beberapa negara otoriter juga memicu ketidakpuasan. Kondisi ini membuat sebagian masyarakat rentan terhadap ideologi radikal, yang bisa dimanfaatkan oleh kelompok ekstremis.

Kesimpulan:
Secara keseluruhan, situasi konflik di Asia Tengah bersifat kompleks dan multi-dimensi. Bukan perang terbuka, melainkan kumpulan ketegangan laten yang bisa meletup kapan saja. Stabilitas kawasan ini sangat krusial, tidak hanya bagi penduduknya tetapi juga bagi keamanan global, mengingat posisinya sebagai jembatan strategis antara Eropa dan Asia. Memerlukan pendekatan komprehensif yang melibatkan kerja sama regional, dialog damai, dan dukungan dari komunitas internasional untuk mencegah eskalasi konflik di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *