Narasi Kejahatan di Jemari: Peran Media Sosial dalam Membentuk Persepsi Publik
Di era digital ini, media sosial telah bertransformasi menjadi arena utama di mana narasi kejahatan dibentuk dan disebarkan. Kemampuannya untuk menyebarkan informasi secara real-time dan masif memiliki dampak besar dalam membangun persepsi publik terhadap berbagai tindak kriminalitas, dari kasus kecil hingga kejahatan lintas negara.
Di satu sisi, media sosial berfungsi sebagai megafon yang kuat untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap tindak kejahatan, terutama yang luput dari perhatian media arus utama. Ia memicu gelombang solidaritas bagi korban, mendesak penegak hukum untuk bertindak, bahkan terkadang menjadi platform ‘jurnalisme warga’ yang membantu mengungkap fakta atau mengidentifikasi pelaku. Ini menciptakan kontrol sosial yang lebih ketat dan rasa keadilan yang lebih cepat.
Namun, sisi gelapnya tak kalah nyata. Kecepatan penyebaran informasi seringkali mengorbankan akurasi, memicu penyebaran hoaks atau informasi yang belum terverifikasi. Potensi sensasionalisme, penghakiman publik sebelum proses hukum, serta pelanggaran privasi korban atau terduga pelaku menjadi konsekuensi serius. Hal ini dapat memperparah trauma, menciptakan stigma, bahkan memicu ‘peradilan jalanan’ yang tidak berdasarkan fakta hukum.
Dengan demikian, peran media sosial dalam membentuk persepsi publik terhadap kejahatan adalah kompleks dan berdimensi ganda. Ia adalah alat yang ampuh untuk kebaikan maupun potensi bahaya. Penting bagi kita sebagai pengguna untuk selalu menyaring informasi dengan kritis, memverifikasi fakta, dan menggunakan platform ini secara bertanggung jawab agar persepsi yang terbangun tetap objektif dan berkeadilan.
