Luka Dalam yang Tak Kasat Mata: Jejak Kejahatan pada Kesehatan Mental
Kejahatan seringkali diidentikkan dengan kerugian fisik atau material. Namun, dampak yang tak kalah parah, bahkan seringkali lebih mendalam dan tahan lama, adalah pada kesehatan mental korbannya. Luka-luka ini tak terlihat, namun bisa merenggut kedamaian jiwa dan mengubah hidup seseorang secara drastis.
Saat seseorang menjadi korban kejahatan, syok awal seringkali diikuti oleh rasa takut yang mencekam, cemas, dan hilangnya rasa aman. Dunia yang sebelumnya terasa stabil bisa runtuh seketika, digantikan oleh perasaan rentan dan tidak berdaya. Sensasi ini bisa menetap lama, membuat korban selalu waspada, curiga, dan kesulitan merasa nyaman bahkan di lingkungan yang seharusnya aman.
Dampak jangka panjangnya bisa sangat beragam. Banyak korban mengalami Gangguan Stres Pascatrauma (PTSD) dengan gejala kilas balik (flashback) yang mengganggu, mimpi buruk, dan kewaspadaan berlebihan. Depresi, gangguan kecemasan, dan kesulitan tidur juga umum terjadi. Korban seringkali bergumul dengan rasa bersalah (meskipun bukan salah mereka), malu, dan kehilangan kepercayaan terhadap orang lain atau lingkungan sekitar. Hal ini bisa mengisolasi mereka, memperburuk kondisi mental, dan menghambat proses pemulihan.
Luka mental ini tidak hanya memengaruhi individu, tetapi juga relasi sosial, performa kerja atau akademik, serta kualitas hidup secara keseluruhan. Pemulihan memerlukan waktu, dukungan dari keluarga, teman, dan yang terpenting, bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater. Memahami bahwa dampak kejahatan jauh melampaui kerugian fisik adalah langkah pertama untuk memberikan dukungan yang tepat bagi para korban. Kesehatan mental mereka adalah prioritas yang tak boleh diabaikan dalam proses pemulihan.
